Posted by ABDUL
Tuesday, March 26, 2013
0 comments
Suatu hari seekor Singa berbaring tidur di hutan. Sebuah Tikus kecil,
berlarian di rumput dan tidak melihat mana ia pergi, berlari di atas
kepala singa dan ke bawah hidungnya.
Sang Singa terbangun dengan raungan keras, dan ke bawah kakinya
datang atas Tikus sedikit. Binatang besar itu akan membuka rahangnya
yang besar menelan makhluk kecil ketika “Maafkan aku, ya raja, aku
mohon,” teriak Tikus ketakutan. “Jika Anda hanya akan memaafkan aku kali
ini, saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Anda, saya bermaksud
buruk dan aku tentu tidak ingin mengganggu Yang Mulia.. Jika Anda akan
menyelamatkan nyawa saya, mungkin saya mungkin dapat Anda yang baik
gilirannya juga. ”
Ada sebuah sungai di pinggir hutan. Di sungai itu hiduplah
sekelompok buaya. Buaya itu ada yang berwarna putih, hitam, dan
belang-belang. Meskipun warna kulit mereka berbeda, mereka selalu hidup
rukun.
Di antara buaya-buaya itu ada seekor yang badannya paling besar. Ia
menjadi raja bagi kelompok buaya tersebut. Raja buaya memerintah dengan
adil dan bijaksana sehingga dicintai rakyatnya.
Suatu ketika terjadi musim kemarau yang amat panjang. Rumput-rumput
di tepi hutan mulai menguning. Sungai-sungai mulai surut airnya.
Binatang-binatang pemakan rumput banyak yang mati.
Begitu juga dengan buaya-buaya. Mereka sulit mencari daging segar.
Kelaparan mulai menimpa keluarga buaya. Satu per satu buaya itu mati.
Dahulu kala peri dan manusia hidup berdampingan dengan rukun.
Mekhala, si peri cantik dan pandai, berguru pada Shie, seorang pertapa
sakti. Selain Mekhala, Guru Shie juga mempunyai murid laki-laki bernama
Ramasaur. Murid laki-laki ini selalu iri pada Mekhala karena kalah
pandai. Namun Guru Shie tetap menyayangi kedua muridnya. Dan tidak
pernah membedakan mereka.
Suatu hari Guru Shie memanggil mereka dan berkata, “Besok, berikan
padaku secawan penuh air embun. Siapa yang lebih cepat mendapatkannya,
beruntunglah dia. Embun itu akan kuubah menjadi permata, yang bisa
mengabulkan permintaan apapun.”
Pada jaman dahulu di daerah Padamara dekat Sungai Sawing hiduplah
sebuah keluarga miskin. Sang istri bernama Inaq Lembain dan sang suami
bernama Amaq Lembain.
Mata pencaharian mereka adalah buruh tani. Setiap hari mereka berjalan kedesa desa menawarkan tenaganya untuk menumbuk padi.
Kalau Inaq Lembain menumbuk padi maka kedua anaknya menyertai pula.
Pada suatu hari, ia sedang asyik menumbuk padi. Kedua anaknya ditaruhnya
diatas sebuah batu ceper didekat tempat ia bekerja.
Anehnya, ketika Inaq mulai menumbuk, batu tempat mereka duduk makin
lama makin menaik. Merasa seperti diangkat, maka anaknya yang sulung
mulai memanggil ibunya: “Ibu batu ini makin tinggi.” Namun sayangnya
Inaq Lembain sedang sibuk bekerja. Dijawabnya, “Anakku tunggulah
sebentar, Ibu baru saja menumbuk.”
Dahulu kala disebuah lautan hiduplah seekor Ikan Hiu Sura dengan
Buaya kedua binatang ini tak pernah akur mereka selalu berkelahi saat
berebut mangsa. kedua binatang ini sama kuat, tangkas, cerdik, ganas dan
rakus. Walaupun sudah sering berkelahi tetapi tidak ada yang menang
atau yang kalah di antra mereka. Akhirnya merekapun bosan bermusuhan dan
mereka mengadakan kesepakatan.
“Sepertinya aku sudah bosan nih berantem terus badan pada pegel, gimana kalau kita membuat perjanjian” kata Sura
“Iya aku juga bosen, ya udah perjanjian apa nih”
“Kita bagi daerah kekuasaan”
Cerita Bahasa Inggris – A poor Fisherman, who lived
on the fish he caught, had bad luck one day and caught nothing but a
very small fry. The Fisherman was about to put it in his basket when the
little Fish said: “Please spare me, Mr. Fisherman! I am so small it is
not worth while to carry me home.
When I am bigger, I shall make you a much better meal.” But the
Fisherman quickly put the fish into his basket. “How foolish I should
be,” he said, “to throw you back. However small you may be, you are
better than nothing at all.” A small gain is worth more than a large
promise.
Terjemahan Cerita Anak Bahasa Inggris : NELAYAN DAN IKAN KECIL
Cerita Dongeng Legenda Rakyat Joko Kendil
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang wanita dengan anak laki-lakinya.
Anak itu mempunyai bentuk fisik yang aneh. Badannya mirip dengan periuk.
Karena itulah orang menyebutkan Joko Kendil*.
Walaupun tubuh Joko tidak normal, ibunya mencintainya apa adanya. Ia
juga tak pernah menyesali nasib anaknya. Apa pun yang diminta Joko, ia
selalu berusaha mengabulkannya.
Tersebutlah kisah seorang guru agama yang hidup di tepi sungai
disebuah desa di Sumatera Barat. Pada suatu hari, ia mendapat undangan
pesta dari dua orang kaya dari desa-desa tetangga. Sayangnya pesta
tersebut diadakan pada hari dan waktu yang bersamaan.
Pak Lebai menimang- nimang untung dan rugi dari setiap undangan.
Dahulu di propinsi Sumatera Utara terdapat dua kerajaan. Kerajaan itu
dikenal dengan nama Kerajaan Timur dan Kerajaan Barat. Pada suatu
ketika, raja yang berkuasa di Kerajaan Timur menikah dengan adik
perempuan dari raja yang berkuasa di Kerajaan Barat. Beberapa tahun
kemudian lahir seorang bayi perempuan yang diberi nama ‘Si Dayang
Bandir’, tujuh tahun kemudian lahir seorang anak laki-laki yang
bernama Sandean Raja. Ketika masih kecil, ayah Si Dayang Bandir dan
Sandean Raja meninggal dunia.
Dahulu kala, di kota Persia, seorang Ibu tinggal dengan anak
laki-lakinya yang bernama Aladin. Suatu hari datanglah seorang laki-laki
mendekati Aladin yang sedang bermain. Kemudian laki-laki itu mengakui
Aladin sebagai keponakannya. Laki-laki itu mengajak Aladin pergi ke luar
kota dengan seizin ibu Aladin untuk membantunya. Jalan yang ditempuh
sangat jauh. Aladin mengeluh kecapaian kepada pamannya tetapi ia malah
dibentak dan disuruh untuk mencari kayu bakar, kalau tidak mau Aladin
akan dibunuhnya. Aladin akhirnya sadar bahwa laki-laki itu bukan
pamannya melainkan seorang penyihir. Laki-laki penyihir itu kemudian
menyalakan api dengan kayu bakar dan mulai mengucapkan mantera. “Kraak…”
tiba-tiba tanah menjadi berlubang seperti gua.
Dahulu, ada seorang ibu dan anak muda yang tinggal di sebuah desa.
Anak muda tersebut bernama Jack. Kehidupan mereka tergolong miskin.
Harta mereka yang ada hanya seekor sapi, yang lama kelamaan produksi
susunya semakin berkurang. Menyadari hal itu, sang ibu pun berencana
menjual sapi yang mereka miliki, kemudian uangnya akan dipergunakan
untuk membeli gandum. Rencananya, gandum tersebut akan ditanam di ladang
dekat rumah mereka.